Digital Native vs Digital Immigrant

IMG20160423112235

Pemanfaatan Teknologi dalam Kehidupan (dokumentasi pribadi)

Sabtu ini saya diajak oleh seorang teman untuk mengikuti sebuah acara parenting dengan tema acara The New Age of Motherhood: Raising Your Child with Technology. Acara ini diselenggarakan oleh Mommies Daily bekerja sama dengan Sampoerna Academy.

Sebenarnya acara ini ditujukan untuk ibu-ibu yang sudah punya putra/putri, tapi ketika membaca sinopsis tentang acara dan deskripsi singkat tentang pendidikan berbasis STEAM  (Sains, Technology, Engineering, Arts, Mathematic) membuat saya tertarik untuk mengikutinya dan mengiyakan ajakan teman saya.

Akhirnya, kami berangkat pagi itu dari Tangerang dengan 2 teman lainnya yang sudah berkeluarga ke The Hook Restaurant, Jl. Cikatomas. Narasumber di acara ini adalah :

  1. Psikolog Anak dan Remaja, Vera Itabiliana K., Psi.
  2. Dosen Sampoerna University, Erna Maria Lokallo, P.hD.
  3. Kepala Sekolah Sampoerna Academy, Yannik Herawati.
the hook

Salah seorang narasumber, Vera Itabiliana, Psi, seorang psikolog anak dan remaja (sumber foto: facebook mommys daily)

 

Mba Vera Itabiliana menjelaskan bahwa anak-anak sekarang lahir sebagai generasi digital native, yaitu anak-anak yang lahir di saat terjadinya perkembangan teknologi digital sedang berlangsung. Generasi digital native mudah menyerap perkembangan teknologi, mudah mengoperasikan berbagai media digital dan gadget, dan tidak kikuk dalam menggunakannya. Sedangkan para orang tuanya yang hidup di saat teknologi digital belum begitu berkembang  kemudian mengikuti perkembangan teknologi digital dan sampai saat ini. Orang-orang seperti ini disebut digital immigrant yang membutuhkan usaha untuk mempelajari teknologi dan media-media digital yang berkembang. tidak begitu melek media, butuh waktu lebih dari sehari mempelajari sebuah gadget, dan generasi digital native adalah salah satu pemandunya dalam mengikuti perkembangan teknologi.

Saat ini yang menjadi dilema sebagian besar orang tua adalah antara memberikan anak-anaknya fasilitas gadget atau membatasi anak-anaknya dalam menggunakan gadget. Ada plus minusnya masing-masing. Tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak sebagai generasi digital native, di semua aspek saat ini menggunakan teknologi informasi baik di sekolah maupun pergaulannya sehari-hari. Ada banyak manfaat teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan anak mulai dari anak usia 2 tahun ke atas sampai anak dewasa. Jika Ibu memberikan fasilitas gadget kepada anak, maka Ibu perlu memantau secara berkala isi gadget anak, misalnya history youtube, history penelusurannya, akun media sosialnya. Jadilah teman anak di media sosialnya, tapi jangan tegur anak di media sosialnya. Cukup diamati perkembangannya. Jika Ibu ingin menegur atau menanyakan sesuatu kepada anak, lakukan dengan tatap muka langsung. Selain itu, Ibu perlu membatasi jam penggunaan internet atau waktu menonton anak dalam sehari. Ibu juga dapat melibatkan anak ketika Ibu menggunakan internet atau gadget, sehingga si anak merasa enjoy  dan merasa terlibat.

sampoerna academy

Ini nih penampakan sebagian orang tua yang semangat mencari ilmu (foto dokumentasi mommys daily) 

Selain itu ada pemaparan mengenai 21th century skills oleh Yannik Herawati, Kepala Sekolah Sampoerna Academy. Lebih jauh mba Yannik menjelaskan mengenai metode pembelajaran yang diterapkan di Sampoerna Academy. Selain itu sekolah dengan standar internasional ini menekankan pentingnya pengembangan budaya, karakter anak, kepemimpinan, dan wirausaha yang bermanfaat bagi kehidupan anak kelak di masa datang.

Narasumber berikutnya adalah Ibu Erna Maria Lokallo, P.hD., dosen Sampoerna University menjelaskan mengenai STEAM (Science – Technology – Engineering – Arts – Math). Kita harus mendidik anak kita dengan pengetahuan yang belum ada sekarang. Maksudnya, bahwa mereka di masa datang bisa memiliki profesi yang belum ada di masa ini, atau belum terkenal di saat ini. Nah, pendidikan berbasis STEAM ini melatih anak tidak hanya menjadi seorang inovator dan pemikir kritis, namun juga pribadi yang mampu berinteraksi secara baik dengan sekolah, masyarakat, pekerjaan dan dunia. Hal ini sangat cocok dengan kebutuhan di masa depan, seiring dengan tantangan yang akan dihadapi di era globalisasi. Sebenarnya STEAM bisa dengan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pembelajaran tentang Sains bisa kita dapat dari matahari, cuaca, flora dan fauna. STEAM mengajarkan bagaimana menjadikan sains itu mudah. Kehidupan ini adalah sains dan kita berinteraksi dengan hal itu setiap harinya. 

Mommies Daily

saya dan tiga narasumber (foto dokumentasi mommys daily)

Di akhir acara, ada beberapa hiburan bagi peserta. Surprisingly, saya berkesempatan mendapatkan hadiah dan berfoto dengan para narasumber di atas. Terima kasih mommys daily dan sampoerna academy sudah mengadakan acara ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s