Afala tatafakkaruun

aaaaquestion_mark3aAllah berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat ayat 6 :

يَأُيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيْبُوا قَومًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik yang membawa sesuatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum kerana kebodohan(kejahilan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Melihat fenomena akhir-akhir ini, informasi begitu mudah tersebar luas dari mana saja dan kapan saja dengan cepat karena pengaruh kecanggihan teknologi. Kita lihat saja salah satu contohnya broadcast message (BM). Betapa banyak BM yang dikirim ternyata adalah berita bohong atau informasi tahun lalu yang di copy paste dan dikirim ulang pada tahun ini tanpa mengedit dan membacanya ulang. Salah satu contohnya saja beberapa waktu lalu, beredar BM mengenai tanggal tanggal istimewa di bulan Muharram. Adapun isi BM tersebut kira kira seperti berikut:

Dari 8 Muharram sampai 14 Muhaaram yang jatuhnya tepat seminggu

8 Muharram jatuh pada hari Senin à Puasa sunnah Senin Kamis

9 Muharram pada hari Selasa à Puasa sunnah Taasu’a

10 Muharram pada hari Rabu à Puasa sunnah Asyura

11 Muharram pada hari Kamis à Puasa sunnah Senin Kamis

12 Muharram pada hari Jum’at à Puasa sunnah Ayamul Bidh

13 Muharram pada hari Sabtu à Puasa sunnah Ayamul Bidh

14 Muharram pada hari Minggu à Puasa sunnah Ayamul Bidh

Terdapat satu minggu berturut turut setiap hari untuk berpuasa sunnah. Jika tidak meneliti lebih jauh mengenai isi BM tersebut, mungkin kita akan dengan tergesa gesa mengabarkan hal ini kepada kerabat bahwa ada waktu seminggu untuk meraih pahalaNya.
BM semacam ini dengan cepat tersebar luas karena sekarang tinggal klik tombol copy di HP lalu paste ke siapa yang dikehendaki. Setelah diteliti lebih jauh ternyata ada kesalahan dalam berita tersebut. 8 Muharram jatuhnya pada hari Selasa, begitu juga 9 Muharram jatuh pada hari Rabu, dan seterusnya. Setelah ada yang sadar lalu ada yang konfirmasi ulang, ternyata pesan yang terkirim sudah lebih dari 100 kontak, lalu apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya?

Melihat hal serupa sering terjadi berkali-kali, saya jadi teringat dengan surat Al Hujurat ayat 6 yang tertera pada pengantar di awal tadi. Tidak hanya pada kasus BM penanggalan Muharram, dulu juga pernah beredar sms beruntut yang berisi ancaman bla bla bla….berita tentang kiamat, dan sebagainya saya tidak begitu ingat, diakhiri dengan “jika anda tidak menyebarkan sms ini ke 10 nomor berikutnya, maka anda akan dirundung kesialan sampai tujuh turunan” (serem amat).

Kembali ke Surat Al hujurat ayat 6. Allah memerintahkan kepada orang orang yang beriman untuk meneliti kebenaran suatu berita yang datang dari orang fasik agar tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan. Di sana ada kata kata orang orang yang beriman dan orang fasik. Berarti yang dipanggil dalam ayat tersebut hanya orang orang yang beriman. Orang orang yang beriman adalah orang orang yang percaya kepada Allah SWT. Pada ayat tersebut juga dituliskan ‘jika datang kepadamu orang fasik yang membawa suatu berita’. Adapun pengertian orang fasik ini menurut ulama adalah orang-orang yang memiliki dosa besar.  

Menurut saya, berkaitan dengan kasus broadcast message dan pesan pesan ancaman gak jelas tadi, tidak hanya pada orang fasik kita harus meneliti kebenaran sumber berita, pada berita berita yang tidak jelaspun kita harus waspada. Bahkan pada berita yang sudah jelaspun kita harus menggunakan akal dan pikiran dalam membacanya. Tidak hanya sekedar baca lalu kirim. Tapi kita perlu Baca dan Pikirkan.

Mengutip dari http://muslimdaily.net pada tulisan tentang  “Selektif Menerima Informasi” disebutkan :

Dalam soal mentabayyun berita yang berasal dari orang yang berkarakter meragukan ini ada teladan yang indah dari ahli hadist. Mereka telah mentradisikan tabayyun ini di dalam meriwayatkan hadist. Mereka menolak setiap hadist yang berasal dari pribadi yang tidak dikenal identitasnya (majhul hal), atau pribadi yang diragukan intgritasnya (dha’if). Sebaliknya, mereka mengharuskan penerimaan berita itu jika berasal dari seorang yang berkepribadian kuat (tsiqah). Untuk itulah kadang-kadang mereka harus melakukan perjalanan berhari-hari untuk mengecek apakah sebuah hadis yang diterimanya itu benar-benar berasal dari sumber yang valid atau tidak.   

Allah tidak ingin kita berhenti pada proses membaca saja, tapi kita harus melanjutkannya sampai pada proses berpikir. Ketika otak sudah mengolahnya, maka ada perintah berikutnya untuk melakukan tindakan seperti melanjutkan pesan, meneliti kebenaran atau mendiamkannya. Begitu banyak ayatNya yang mengajak kita untuk berfikir, afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun, la’allakum ta’qiluun, la’allakum tadzakkaruun,”

afala ta’qiluun = apakah kalian tidak menggunakan akal?

afala tatafakkaruun = apakah kalian tidak berfikir?

afala yatadabbarun = apakah kalian tidak menelaah?

la’allakum ta’qiluun = Agar kalian memahaminya

la’allakum tadzakkaruun = Agar kalian mengambil pelajaran

Kehidupan ibaratnya sebuah penelitian. Kita perlu melakukan triangulasi data untuk mendapatkan data yang tepat dan sesuai dengan yang sebenarnya. Artinya untuk menarik suatu kesimpulan yang mantap, diperlukan tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Triangulasi data mengarahkan peneliti untuk menggunakan beragam sumber data yang berbeda-beda dalam mengambil data.

Begitulah, Allah memberikan kita kelebihan akal dan pikiran dibandingkan makhluk lain. Maka sudah seharusnya kita menggunakannya dengan baik. 

 Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (QS. Al Isra: 70).

Note :
Sumber gambar : di sini

Iklan

2 pemikiran pada “Afala tatafakkaruun

  1. biasanya saya kalo mendapat sms berantai gitu nanya keteman2 dulu…
    apalagi yang mbak bilang ada pake ancaman kalo tidak di sebarkan akan dapat bencana….
    ehhhh malah terakhir kita yang berdosa ya mbak.. kalo menyebarkan yang gak benar… 🙂
    trims sharingnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s