Aku Tak Bisa Mengusir Semua Ketakutanmu

2013-08-27-15-55-103Aku tak bisa mengusir semua ketakutanmu, Adikku. Sebagai kakak, aku tak selalu bisa melindungimu. Barangkali karena aku juga memiliki ketakutan yang tak bisa kusingkirkan dalam diriku. Tapi jika ada yang membuatmu gelisah, aku akan memegang tanganmu dan mendengarkan semua ceritamu. Kau boleh bercerita apa saja…dan aku akan membuatkanmu segelas susu dengan gula merah, seperti kita kecil dulu, agar kau merasa jauh lebih tenang…jauh lebih tenang..jauh lebih tenang dari sebelumnya.

“Jangan takut. Kamu nggak sendirian, kok. Ada aku di sini,” Aku berusaha menenangkanmu. Ayah dan Ibu belum juga pulang. Hari sudah mulai malam.

“Gimana kalau mati lampu!” Kau mulai berpikir macam-macam.

“aku akan tetap di sini menemanimu” jawabku.

“Dalam gelap aku tak bisa melihat apa-apa. Aku tak bisa melihat Kakak ada di sini”.

“Kau bisa memegang tanganku. Aku akan memegang tanganmu seperti Ayah memegang tanganku. Tenanglah, jangan takut”

“Kakak nggak takut? Katamu.

“Takut. Tapi kita bisa berdo’a”.

IMG_20130312_173445

Entah kenapa tiba tiba ada cairan hangat yang meleleh di pipi saat membaca potongan tulisan Fahd Djibran dalam “Perjalanan Rasa” itu. Jika aku teruskan membacanya, aku yakin air mata ini akan semakin deras keluarnya. Sepenggal tulisan Fahd Djibran itu telah berhasil membuat ingatanku jauh ke belakang saat kita kecil dulu. Walaupun ceritanya tidak begitu sama, bahkan berkebalikan mungkin. Ketika kecil aku lebih penakut darimu, Adikku. Aku yang paling sering takut jika lampu mati, akulah yang paling sering minta ditemani ke kamar mandi. Kamu lebih lincah dariku. Saking lincahnya juga lebih sering mengalami luka dibanding aku. Pernah jatuh di rel kereta api ampe kepalanya bocor setelah pulang dari sekolahku, setelah memain-mainkan pembatas kelas di depan kelasku. Pernah kukunya kejepit saat main jungkat jungkit, pernah tertusuk paku, pernah kena knalpot, bahkan pernah digigit anjing saat kita lagi main kejar-kejaran dan itu terjadi di depan mata kepalaku. Lagi-lagi jika mengingat itu, membuat mata ini berkaca-kaca.

Kini belasan tahun berlalu, kau akan menghadapi ketakutanmu yang lain. Ketakutan yang barangkali tak pernah sanggup kubayangkan. Tapi sebagai Kakak, menjelang waktu persalinanmu, aku hanya bisa berdo’a seraya membayangkan tengah memegang tanganmu dan berkata, seperti waktu kecil dulu, “ Jangan takut, ada aku di sini”.

Kita selalu menemukan keberanian di atas ketakutan dan kegelisahan orang-orang yang kita sayangi, Adikku. Kita akan menemukan keberanian dari rasa percaya orang-orang yang kita sayangi bahwa kita akan selalu setia melindungi mereka.

Kulanjutkan membaca penggalan tulisan Fahd Djibran yang lagi-lagi membuat banjir di pipi ini. Tulisan itu persis seperti apa yang aku rasakan saat ini.  Saat ini aku hanya bisa berdo’a mengiringi ketakutanmu di seberang sana. Aku tidak bisa berada di sampingmu. Aku tidak bisa lagi menjadi kakak yang selalu berusaha memberikan arahan mengenai apa yang harus dilakukan atau apa yang harus ditempuh, seperti saat kita masih duduk di bangku sekolah dulu. Keadaanya sudah berbeda sekarang. Dulu, aku masih bisa memberitahumu bagaimana cara belajar dengan guru A, guru B, atau guru C, bagaimana cara membuat karangan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia yang selalu kamu hindari, bagaimana cara menjawab soal-soal kimia, atau universitas apa yang sebaiknya diambil ketika mengajukan PMDK. Aahh…Saat ini sudah jauh berbeda sekali dengan masa-masa itu. Dulu, aku bisa memberitahumu hal hal itu karena sebelumnya aku pernah melewatinya.  Namun, sekarang aku belum pernah mengalami ketakutan seperti yang kau alami saat ini.

Tapi aku yakin, kamu adalah seorang yang pemberani dan kuat, Adikku. Dari kecil memang seperti itu. Kamu selalu berani dan kuat. Mungkin hanya aku saja yang gelisah berlebihan. Semoga memang begitu adanya.

Aku di sini dan tak akan bisa tidur, mendoakanmu dan menunggu kabar baik dari seberang pulau sana.

***

bayi

“Kakak nggak takut?”

“Takut. Tapi kita bisa berdoa”

ﺤﻨﺎ ﻭﻟﺪﺖ ﻤﺭﻴﻡ ﻭﻤﺭﻴﻡ ﻭﻟﺪﺖ ﻋﻴﺴﻰ ﺍﺨﺮﺝ ﺍﻴﻬﺎ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺪ ﺒﻗﺪﺮﺓ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﻤﻌﺒﻮﺪ

“ Hannaa Waladat Maryama Wa Maryama Waladat ‘isa. Ukhruj Ayyuhal Mauluudu Biqudrotil Malikil Ma’buud “.

Artinya :

“ Hana melahirkan Maryam, dan Maryam telah melahirkan Isa. Keluarlah (lahirlah) hai anak dengan sebab kekuasaan Allah raja yang disembah “.

***Beberapa potongan tulisan Fahd Djibran berjudul “Ketakutan” dalam Perjalanan Rasa

Iklan

11 pemikiran pada “Aku Tak Bisa Mengusir Semua Ketakutanmu

  1. wahhh selamat menjadi tante yah kak Alfi… 🙂 insyaALLOH adik kakak dalam lindunganNYA… insyaALLOH juga ketakutan kak Alfi akan segera padam bersama cahaya indah yang tak pernah kita ketahui di depannya…aamiin

  2. Terimakasih tulisannya Akak, yang juga akan selalu menjadi Kakak buat kita semua disni. Bimbing juga adik-adikmu yang lain ya Kaaaak…. 😥

    Terimakasih sudah menyuntikkan energi pada pagi yang gelisah ini Kak….
    Semoga Tuhan selalu memberikan berkah-Nya pada kita semua…. [{}]

  3. Udah lama sekali gak mampir mbak…
    selamat ya atas kelahiran keponakannya walau terlambat ngucapin…

    fase2 kehidupan sebelum dijalani pasti ada ketakutan.. tapi setelah terleati leganya luar biasa… 🙂
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s