Bagaimana Jika Baterai Jiwamu Tidak Dicharge?

Aku putuskan berangkat ke Serpong menemui adikku sore itu. Sepulang kuliah jam tiga sore aku menelpon travel untuk memesan satu kursi tujuan Serpong lalu bergegas balik ke kosan untuk membereskan hal-hal yang perlu dibawa. Hari itu kuliah yang padat, membuatku serba terburu-buru untuk melakukan ini itu. Ternyata aku dapat travel yang jam 17.30 dari Cihampelas. Yah, tak apalah. Tidak terlalu malam.

Kalau ke Tangerang sih sudah sering, jadi tidak ada yang perlu aku takutkan jika pergi ke sana sendirian. Namun ini Serpong, daerah di sekitar Tangerang Selatan. Aku baru sekali ke sana waktu mengantar adikku tes. Sekarang keadaanya, aku pergi sendiri pada malam hari serta aku belum tau pasti tempat kos adikku. Agak ragu juga untuk berangkat sore itu, namun keadaan mengharuskanku berangkat sore itu juga. Yahh..modal nekat semangat sang petualang sajalah. Semoga selamat sampai di tujuan.

Sesampai di Cihampelas, setelah mengurus administrasi keberangkatan (ce ileh…kayak mo pergi jauh aja :-D) aku duduk di kursi tunggu. Masih satu jam lagi. Aku mencoba memberi kabar ke Papa di Padang dan adikku di Serpong kalo aku berangkat sore ini. Kulirik hp di tangan, upss…baterainya tinggal satu. Alamaaakk…aku belum mencharge hpku dari semalam. Waduh, kalo baterainya cuma satu pasti ga bakal bertahan hingga tiga jam mendatang. Aku berpikir bagaimana caranya untuk bisa mengisi baterai. Ahaa…ternyata di pojok ruangan disediakan colokan untuk mengisi baterai hp penumpang.

Tanganku berusaha mencari-cari charger yang tersimpan di dalam tas. Atas, tengah, kiri, kanan, kanan bawah, kiri bawah, samping. Waahh…. aku tidak menemukannya di setiap sudut isi tas. Ampuuun, aku pasti lupa membawanya. Aku mulai sedikit cemas jika nanti baterai hpku habis dan aku tidak tau jalan ke kos adikku. Jika harus balik ke kosan mengambil charger aku akan ketinggalan travel. Jika aku batalkan keberangkatan sore itu, sayangnya tiket sudah dibayar. Hemm…aku berusaha memutar otak bagaimana caranya untuk mengisi baterai hpku.

Kulirik kiri kanan, melihat orang-orang yang kira-kira menggunakan Samsung (upss…sebut merk). Hampir semua orang di ruang tunggu sedang memegang hp, sekedar sms, menelpon atau lagi bermain game dan membuka akun sosial network. Kucoba dekati satu orang di depanku yang menggunakan Blackberry (ups..sebut merk lagi). Biasanya charger Blackberry cocok untuk Samsung. Kucoba melobi untuk meminjam chargernya. Alhamdulillah…dipinjamkan.

Diberikan charger, aku langsung mengisi baterai hpku. Baru lima menit, tiba-tiba ada pengumuman kalau ada pemberangkatan untuk tujuan —-teett (aku lupa tujuan mana, yang jelas sesuatulah).  Mba yang punya charger langsung meminta chargernya karena dia harus segera berangkat. Yaah..dengan setengah hati dan sebenarnya tidak rela aku serahkan charger itu. Yang punya charger sebenarnya siapa sih? (⌣́_⌣̀ ) Ga nyadar ya kalo cuma minjem.

Lumayanlah, suplai energi dari charger pinjeman tadi telah menyumbangkan satu baterai tambahan. Lanjooot…sms-an. Entah kenapa sore itu banyak banget sms masuk. Teng tong, jam 17.30 aku masuk ke dalam mini bus yang akan memberangkatkanku. Kulirik HP cuma tersisa satu baterai. Yaah, aku harus mematikan HP supaya nanti sampai di tempat tujuan bisa menghubungi adikku.

Ternyata selama aku mematikan HP, di tempat lain orang tuaku sedang panik memikirkanku karena HPku tidak bisa dihubungi. Mereka takut terjadi apa-apa dan aku tak tau arah kemana tujuan diitambah dengan HP yang mati. Begitu cerita adikku.

Tiga jam perjalanan Bandung-Serpong tak terasa. Sampai di BSD jam 21.00 WIB, langsung kucari taxi dan menanyakan alamat tujuanku. Ternyata supir taxinya kelihatan ragu-ragu seperti kurang mengenali daerah itu (-__-!). “Baiklah pak, jika sudah masuk Gading Serpong saya tau jalannya. Sekarang antarkan saja saya ke sana dulu” jawabku. Aku berpikir bagaimana supaya bisa cepat sampai di tempat tujuan tanpa mencari taxi lain. Untuk alamat, aku bisa menelpon adikku nanti, pikirku.

Kuhidupkan HP, ternyata udah ngedip-ngedip lampu baterainya. Waduuh. Aku mengirimkan pesan singkat ke adik mengabarkan kalau aku sudah sampai di Serpong dan sedang menuju kosannya. Sampai di depan STKIP Surya, aku tak tau lagi kemana arahnya. Kucoba menelpon, waah..untung masih bisa menelpon dengan baterai HP yang sekarat seperti itu. Setelah mendapat petunjuk tempatnya, si Bapak supir taxi langsung menuju tempat yang diarahkan. Alhamdulillah… melihat bayangan seorang perempuan di ujung jalan hatiku langsung lega. Itu adikku sudah menunggu di ujung jalan.

Baru saja turun dari taxi, langsung HPku berbunyi tiga kali dan off. Waah..pas banget baterainya habis ketika aku sudah bertemu dengan adikku. Hanya beribu puji dan syukur yang bisa diucapkan atas kejadian yang kualami malam itu.

” Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban “

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? “

Sejenak setelah kejadian itu, terpikir bahwa baru HP saja yang tidak dicharge kelabakannya sudah bukan main. Apalagi jika baterai jiwa kita yang tidak dicharge ? Apalagi yang akan menjadi arahan dan petunjuk dalam menjalani hidup ini jika jiwa kosong? Tentu semangat dan harapan hidup akan semakin lemah jika baterai jiwa tidak diisi.

Ternyata setiap hari Allah memberikan pelajaran yang berharga dalam hidup ini. Walaupun itu hanya berupa kejadian kecil yang kadang tidak kita sadari. Masih banyak pelajaran-pelajaran berharga lainnya yang perlu ditadabburi dari setiap kejadian yang Dia berikan. Kita harus pandai memetik hikmah dari setiap kejadian yang Dia berikan.

sumber gambar : ini

Iklan

17 pemikiran pada “Bagaimana Jika Baterai Jiwamu Tidak Dicharge?

  1. hehe…ceritanya panjang…pelajarannya seklumit tapi sangat berharga.
    saya dulu juga sering ke tangerang mbak, sampe sana jam 12 malam. padahal dari jakarta utara jam 18.00 lama juga yah?
    tapi lain cerita, kalo aku kan laki2, tapi ttp aja takut nyasar malem2 apalagi di kota besar

  2. “Apalagi jika baterai jiwa kita yang tidak dicharge ? Apalagi yang akan menjadi arahan dan petunjuk dalam menjalani hidup ini jika jiwa kosong? Tentu semangat dan harapan hidup akan semakin lemah jika baterai jiwa tidak diisi.”

    berbinar-binar pas baca kalimat di atas @_@

  3. baru HP saja yang tidak dicharge kelabakannya sudah bukan main. Apalagi jika baterai jiwa kita yang tidak dicharge ?

    sangat suka pada kalimat ini 8)

    titip pesen aja, lain kali jangan lupa bawa charger 😀

  4. waah hp-nya keren punya batray banya, sy dr dulu batraynya cuma satu.. ini benar2 petualangan tanpa arah (tujuannya ada/kerumah adek),, salut.. salut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s