Penolong Tak Terduga

Akhirnya, bisa juga menggerakkan tuts keyboard untuk kembali mengisi blog ini, setelah sekian lama cuti nulis (hiatus). Saya jadi malu sama diri sendiri setelah membaca komentar dari teman-teman. Banyak yang bertanya dan kadang juga ada yang menyindir atas kehiatusan saya beberapa bulan ini.

Entah komplikasi dari penyakit sok sibuk dan malas atau apapun penyebabnya, yang penting saat ini saya ingin mulai kembali menuliskan sesuatu di sini.

*****

gambar diambil dari http://cbldf.org/

Oke, di pagi Senin ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman ketika Ujian Tengah Semester (UTS) bulan kemarin. Masa-masa UTS adalah saat-saat penyakit sok sibuk saya lagi kronis dan parah-parahnya. Saat saya UTS, adik2 di SMA juga UTS, jadinya jadwal ngajar juga lagi padat-padatnya, kelabakan deh ngatur jadwal. Suatu ketika, sebelum ujian suatu mata kuliah, sebut saja inisialnya IPBA. Entah kenapa ditengah kesibukan bolak balik buku sebelum ujian, saya ditakdirkan mendengar percakapan antara dua orang teman. Sebut saja A dan Ibu B

A : Eh Ibu, udah datang pagi-pagi, sempat masak dulu nggak sebelum berangkat tadi?

B : Sempat dong. Mana tau dengan memasak dulu untuk anak-anak dan suami, nanti diberi kemudahan dalam menjawab soal.

Nyess, dialog singkat itu langsung nancep ke hati. Langsung si hati nanyain, kamu ngapain aja sebelum berangkat tadi? Cuma sibuk belajar dan ninggalin kamar dalam keadaan berantakan.

Kebetulan ujiannya lisan dan tulisan. Ketika ujian lisan, 5 orang masuk secara bergantian ke dalam kelas. Kebetulan lagi saya dan Ibu B ditakdirkan ujian pada sesi yang sama. Ketika ibu B diberi pertanyaan, beliau bisa menjawab seluruh pertanyaan dengan lancar. Lalu, bagaimana dengan saya? Saya jauh diluar perkiraan. Huaaa…parah lah pokoknya. Untung saja, masih ada ujian tulisan setelah itu untuk membantu keparahan ujian lisan tadi.

Kita kembali ke topik ibu B tadi, ternyata betapapun sibuknya, si Ibu tidak melupakan kewajibannya sehari-hari, memasak untuk anak dan suaminya. Dan benar saja, dengan itu dia diberi kemudahan ketika ujian.

Dari kejadian itu, sepertinya Allah telah mendesain agar saya mendengar percakapan antara ibu B dan A, serta mendesain agar saya satu sesi dalam ujian dengan ibu B, untuk menberikan suatu pelajaran yang tidak saya dapatkan di bangku perkuliahan manapun. Pelajaran tentang hidup dan kehidupan.

Betapapun sibuknya, jangan pernah lupakan kewajiban kecil sehari-hari. Terkadang kita tidak terlalu memperhatikan atau bahkan mengabaikan kewajiban kecil, karena ada sesuatu yang kita anggap besar di depan mata. Ternyata hal kecil itu bisa menjadi penolong tak terduga dalam kesulitan.

Apalagi melupakan kewajiban seorang istri dan ibu di keluarga. Allah akan memberikan pertolongan yang tak terduga pada seorang Ibu dan seorang istri yang berbakti

Iklan

14 pemikiran pada “Penolong Tak Terduga

  1. he..he..
    sama kak, terkadang memank ada kebosanan buat nulis……
    kadang pas event penting, gak sempat posting malah….
    tuker link ya ka’… lik kakak dah kutempel nech….he..he..

    BTW, Theme-nya sama tuh…xixixixi

    • kalau bosan nulis, ngga pernah sih gus
      cuma alasan2 lain yang membuat tangan tidak tergerak ke sini

      oke…linknya juga udah dipasang 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s