“Cogito Ergo Sum”

sumber gambar : google images

Suatu ketika dalam perjalanan di sebuah angkot, naik seorang anak kecil dan Ibunya. Sejenak saya tidak terlalu memperhatikan mereka. Namun, ketika terjadi percakapan antara si Ibu dengan anaknya, perhatian saya jadi tercuri oleh mereka. Si anak bertanya kepada Ibunya, ” Ma, nanti kita main ke alun-alun ya !”
Lalu si Ibu menjawab, “Iya sayang, tapi kita ke ITC dulu sebentar”

Kemudian si anak melayangkan pandangannya ke luar melalui kaca angkot, melihat sekelilingnya. Si anak kembali mengoceh, “Ma, kita nyampe ITC nya jam berapa?” Si Ibu menjawab, ” ya…sekitar satu jam lagi”. Lalu anak itu melihat jam di tangannya, sepertinya menghitung-hitung waktu.

Kelihatannya anak itu seumuran dengan anak – anak yang duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Saya jadi tertarik memperhatikannya, karena dari tadi dia tidak bisa diam dan ada saja yang dipikirkannya.

Ada-ada saja tingkah yang dilakukannya. Dia memperhatikan para penumpang yang lagi bercengkrama. Seolah ingin mengikuti pembicaraan mereka. Dia memperhatikan penumpang yang lagi tertidur dan lain-lain. Ketika matanya menangkap mata saya yang juga lagi memperhatikannya, saya pura-pura tidak melihatnya. Lama saya perhatikan dari sudut mata, apa yang dilihatnya dari saya? Ā Apa dia tau kalau saya mengikuti percakapannya dengan si Ibu dari tadi?

Huffh… saya lega, ternyata dia cuma memperhatikan pin yang saya pakai.

Kemudian terlihat dia mengarahkan kedua telapak tangannya kepada ibunya. Telapak tangannya memar serta ada bekas luka. Si Ibu bertanya kenapa itu bisa terjadi. Dia bilang karena tali ayunan. Mungkin karena terlalu keras memegang tali dan terlalu lama bermain ayunan. Saya juga tidak tau pasti apa penyebabnya. Lalu angkot yang kami tumpangi melewati sebuah taman bermain, spontan dia menunjuk dan berkata kepada Ibunya, “Adek main di ayunan yang itu kemaren sama bla..bla..bla…” Dia berusaha menjelaskan kepada Ibunya, dan kalimatnya tidak terlalu jelas saya dengar karena perhatian saya teralih kepada kemacetan jalan. Dia kelihatan menjelaskan panjang lebar, sedangkan si Ibu seperti sudah mulai risih dengan ocehan anaknya. Si Ibu hanya sesekali melihat ke anaknya dengan senyum yang ditahan. Si Ibu sepertinya juga ingin melihat ke jalan, kenapa bisa sebegitu macetnya.

Lalu anak yang dari tadi mengoceh akhirnya terpaksa memperhatikan jalanan di luar angkot. Kembali dia bertanya, “siapa yang meninggal ma?Itu kok banyak mobil dan ada ambulans”. Pertanyaan lugu seorang anak kecil. Kami semua penumpang angkot juga tidak tau siapa yang meninggal, karena itu hanya iring-iringan ambulans dan tidak ada data-data yang jelas atau nama jenazah yang di bawa oleh ambulans tersebut. Si Ibu hanya diam saja.

“Ma, kita udah nyampe mana?”lagi-lagi si anak bertanya. Si Ibu yang kelihatannya pendiam dan tidak banyak omong, seperti capek menjawab pertanyaan anaknya. “Kamu tidur saja dulu, nanti kalo udah nyampe mama bangunin” jawabnya sambil merebahkan kepala si anak ke bahunya, tanpa menghiraukan pertanyaan dari anaknya. Si anak yang penurut diam saja dan tidak bertanya lagi, dia segera tertidur dipangkuan Ibunya. Terkadang terlihat dia bergerak agak tersentak, tapi masih tertidur, sepertinya dia bermimpi sehingga menimbulkan gerakan di tangannya. Saya jadi sedih melihat kondisi itu. Kasian sekali anak kecil itu. Banyak pertanyaannya yang belum terjawab, mungkin saja pertanyaan itu terbawa mimpi olehnya, batin saya. Seandainya saya tau daerah itu, saya akan menjawab, “kita baru sampai di daerah ….. adik kecil, sekitar ….menit lagi sampai di …..

Sayang sekali, saya tidak tau daerah itu. Saya orang baru yang saat itu ingin mencoba jalan lain dari jalan yang biasa saya tempuh. Hari itu saya sedang ingin berpetualang mencari jalan baru. Mendengar pertanyaan terakhir dari adik kecil tadi, saya jadi teringat dengan “Rina kecil” yang dulu juga sering bertanya mengenai jalan dan nama daerah ketika perjalanan pulang kampung dari pariaman ke tandikek (daerah di Sumatera Barat). Alhamdulillah, saya dapat jawaban dari Papa atau Ibu setiap kali pertanyaan keluar dari mulut saya. Sehingga beberapa kali pulang kampung, saya sudah hafal nama daerah dari pariaman ke tandikek.

Anak kecil punya daya imanjinasi yang luar biasa. Masa pertumbuhan adalah masa tumbuh kembang semua organnya, termasuk otak. Rasa ingin tahu yang nantinya bisa membuahkan ilmu pengetahuan dan kreativitas.Tidak hanya anak kecil, sepertinya “rasa ingin tahu” itu sudah menjadi sifat dasar dan dimiliki oleh semua makhluk yang bernama manusia. Dari segala umur, baik balita, remaja, dewasa maupun tua. Selagi masih hidup dan masih berfikir, rasa ingin tau itu akan tetap ada.

Oleh karena itu, jika anda tidak mau membunuh rasa ingin tahu orang lain jangan sekali-kali mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan kepada anda. Walaupun pertanyaan itu sepele. Jika anda mempunyai anak, siswa, teman, adik, kakak, sahabat, Ibu, Bapak, kakek, nenek yang mempunyai segudang pertanyaan, jangan sekali-kali berkata, “Ah…kamu terlalu cerewet, banyak tanya !!!” Dengan begitu anda akan membunuh rasa ingin tahu dan kreativitasnya. Jika hal itu anda lakukan, sama saja anda membunuh rasa ingin tahu dan kreativitas anda sendiri.

Layanilah dan jawablah pertanyaannya dengan sopan dan baik. Jangan jadikan dia sebagai radio rusak yang mengoceh pada tembok kosong seperti anak kecil dalam cerita saya di atas. Karena suatu saat kita juga akan punya segudang pertanyaan dan rasa ingin tahu. Tentu kita tidak ingin diperlakukan sebagai radio rusak yang mengoceh pada tembok kosong, bukan?

Seperti yang diungkapkan filsuf, Descartes, ” Cogito Ergo Sum” = Saya Berpikir maka Saya Ada

***

Iklan

69 pemikiran pada ““Cogito Ergo Sum”

  1. terkadang suka sebel ngelayani pertanyaan anak kecil, tapi hilangkan kesebelan itu ya de, emang udah waktunya seumuran dia banyak nanya… hehehe

  2. berkunjung šŸ˜€
    nice inpo mbak,makasih ya sdh berkenan vote+kasih saran di catatan sederhana…
    ow ternyata theme ini baru aja di tambah ya sama om WP,kirain cari theme di luar trus di pasang di WP….

    salam persahabatan ,-

  3. mungkin ibunya lagi mikirin ongkos angkot karena dompetnya ketinggalan,, jadi ga kepikiran bwt ngejawab pertanyaan anaknya..^^

    • wahh…iya kali mas daoz…
      saya ga kepikiran ke sana
      btw…linknya masih blom ada mas…
      saya ga bisa kunjungan balik nih…

  4. Maaf Rin baru sempat berkunjung nih šŸ˜€

    Saya jadi ingat keponakan saya.. dia pernah bertanya kepada Ibunya, “Ma, kenapa bensin motor itu bisa habis padahal gak ada yang tumpah” šŸ˜€

  5. Dari tulisan diatas saya harus mulai belajar untuk tidak mengabaikan pertanyaan anak kecil ketika mereka bertanya. Soalnya saya juga kadang mengabaikan hal tsb

  6. theme-nya bagus ya šŸ™‚

    baca tulisan di atas jadi ingat Marwa, dia selalu bertanya “kenapa?”
    bahkan untuk pertanyaan yang kadang sudah dia tahu jawabannya dia juga tanya “kenapa?”
    kadang saya kesal juga kalau pertanyaannya sering diulang “kenapa?”5x he-he šŸ˜€

  7. Memang sebaiknya kita sabar meladeni ocehan si kecil supaya tidak mematikan kreativitasnya…
    Karena dengan rasa ingin tahu yang besar itu, anak menunjukkan minatnya untuk belajar banyak hal baru dan memenuhi sel-sel otaknya dengan pengetahuan…..

  8. jadi inget sama anak belakang rumah disini..
    kalu dimarahin sama ibunya ampuun dah..
    ibunya itu keterlaluan… masa binatang satu kebun binatang disebut semua šŸ˜„
    padahal anaknya masih SD šŸ˜¦
    sayang, aku nggak pernah tau rumahnya disebelah mana,,anaknya kayak apa, ibunya kaya apa wajahnya, aku hanya denger dari atas rumah šŸ˜€

  9. pesannya sampai, mengerti maksud ceritanya… hehe, jangan sampai kita menyepelekan pertanyaan mereka karena itu termasuk daya kembang mereka, begitu bukan?

  10. ia mbak saya juga waktu kecil banyak nanya.. jadi saya hapal semua daerah bandung, gara2 sering nanya tempat yang mau di tuju.. thnx

  11. hemmm tanya dan jawab. saya justru sangat senang ketika si kecil banyak tanya dan memberondong pertanyaan setiap kali saya pulang ke rumah. saya juga membiasakan dengan berondongan pertanyaan 5 w 1 h kepada si kecil. karena suka gak suka, dengan cara-cara seperti ini kita sudah mengajarkan anak menjadi cerdas dalam bercerita (retorika), berargumen dan memberi peluang anak untuk terus ingin tahu….

  12. manusia cenderung selalu ingin tau….. bagi anak2 seperti itu keingintahuannya bahkan jauh lebih besar dari keinginan sebagian besar rakyat indonesia akan kelanjutan jalan cerita si vokalis yg bikin heboh itu……kasihan juga jika keingintahuannya selalu dibungkam dan dialihkan…. šŸ˜¦

  13. Alhamdulillah,…
    klu aku malah senang klu anakku sering tanya2 waktu perjalanan, bisa ngurangi gantuk waktu nyetir. malah aku yg nanya klu dia byk diamnya.
    ^__^

  14. uy..uy..uni…
    ckckck..Subhanallah..
    dri dulu san belajar menuang yg terlihat n terserap..tp not yet success..n_n’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s