Independensi Mahasiswa, Masih Perlukah?

sumber gambar : google images

Pagi ini terasa berat karena saya mengawalinya dengan diskusi politik di Facebook. Yang bikin berat itu berasal dari saya sendiri karena saya sedang ingin mengetahui dan bertukar pendapat tentang independensi. Sebenarnya saya salah seorang yang tidak terlalu tertarik membahas tentang politik. Dari dulu, saya sering cuek dan tidak terlalu mendalami hal hal yang berhubungan dengan  politik. Namun, akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengusik pemikiran saya. Sebenarnya ini sudah terfikirkan dari dulu, ketika saya jadi mahasiswa. Tapi dulu saya baru bisa sampai pada tahap mengamati dan memahami. Mungkin pemahaman saya itu salah atau keluar jalur, saya juga tidak tau.

Sumatera Barat akan melaksanakan pilkada (pemilihan kepala daerah) serentak pada tanggal 30 Juni mendatang. Dimulai dari pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur serta Bupati/Wakil Bupati beberapa Kabupaten. Nampaknya, beberapa bulan ke depan pilkada ini akan menjadi perbincangan hangat.  Termasuk juga di kalangan mahasiswa. Beberapa hari ini saya melihat beberapa orang teman dan salah seorangnya termasuk “petinggi mahasiswa” di kampus saya dulu, mengumumkan urutan-urutan calon tersebut. Lama kelamaan sepertinya isi pemberitahuan-pemberitahuan berikutnya mengarah kepada salah satu calon. Kedoknya sih, sebagai pencerdasan politik untuk masyarakat. Apakah dia benar-benar sudah mengenal pasangan yang diunggulkan itu? Apakah itu yang dinamakan pencerdasan politik? Bagaimana jika malah pembodohan politik? Hmmm…banyak pertanyaan yang terfikir ketika itu.

Saya jadi teringat, dulu saya pernah dengar istilah “Independen”. Sebenarnya independen itu apa? Yang saya tahu dan pahami independen itu sikap mental yang tidak berpihak kepada siapapun atau aliran manapun. Mungkin berasal dari istilah asing, independence, tidak bergantung kepada apapun. Ada yang bilang mahasiswa itu independen. Peran mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan sebagai kontrol pemerintahan ditentukan oleh independensinya. Gerakan-gerakan moral yang dilakukan mahasiswa dalam mengkritisi pemerintahan yang keluar jalur, itu juga atas dasar independensinya. Jika mahasiswa sudah ikut dalam mengkampanyekan salah satu calon atau memihak kepada salah satu calon, apa independensinya masih ada?

Saya tahu, setiap orang punya hak untuk memihak dan memilih suatu calon, begitu juga mahasiswa. Menjadi simpatisan adalah hak setiap orang, begitu juga dengan mahasiswa bukan? Namun, terkait dengan perannya sebagai mahasiswa, yang katanya agent of change, apakah keberpihakan itu diperlukan? Jika suatu saat nanti, ternyata calon yang diusulkan tadi keluar jalur dan melakukan suatu penyimpangan, apakah mahasiswa yang ikut mendukung dan menjadi simpatisan tadi masih sanggup untuk mengkritisi? Apa masih punya gigi untuk menyatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar? Masih sanggupkah mahasiswa menyalurkan aspirasi rakyat? Apakah independensinya masih dijunjung tinggi?

Masih perlukah independensi itu di zaman yang serba bebas seperti sekarang ini?

Memang tidak bisa dipungkiri, politik sudah masuk ke dunia kampus. Partai tertentu sudah bisa menggaet hati mahasiswa dan sebagian simpatisannya dari kalangan mahasiswa. Dimulai dengan perkumpulan-perkumpulan kecil, yang anggotanya berniat untuk untuk mencari ilmu dan menambah pengetahuan. Namun, ada sebagian perkumpulan seperti ini yang sedikit melenceng, karena dibumbui dengan mengarahkan anggotanya menjadi kader partai politik tertentu. Dengan masuk dalam perkumpulan itu, secara langsung, sepertinya kita sudah jadi kader partai itu. Saya bicara bukan berdasarkan dugaan, tapi berdasarkan fakta yang saya alami sendiri dulu.

Ketika itu, ada sms masuk dari seorang kakak untuk ikut aksi. Katanya, aksi long march dimulai dari kantor DPD atau DPC atau DPP bla bla bla saya tidak terlalu jelas. Saya jadi bertanya? depe…depee**** itu apa? kenapa orang dalam perkumpulan ini sering sekali berbicara tentang tiga huruf itu.  Awalnya saya tidak terlalu antusias, karena saya bukan tipe orang suka turun ke jalan (apalagi saya seorang perempuan). Kepanjangannya saja saya tidak tahu, bagaimana saya bisa mengikuti ajakan itu? Saya bukan orang dungu yang ketika disuruh ikut A maka saya akan pergi ke sana. Tentunya kita sebagai mahasiswa bukan orang yang tidak bisa berfikir kan? 😉  Nah, sampailah pada suatu ketika karena seringnya mendapat ajakan, saya jadi ingin tau seperti apa sih sebenarnya kegiatan bla bla bla yang sering dis smskan itu. Gimana sih rasanya ikut itu? Maklum, umur segitu memang saat saatnya rasa ingin tahu sedang besar.

Akhirnya saya tergerak juga untuk mengikutinya, sebagai pengetahuan dan pengalaman saja. Baru setelah itu mata ini terbuka. Oooo….ini toh. Ooo… begini cara pergerakannya. Begitu gumam lugu seorang mahasiswa tahun-tahun awal (tingkat satu atau dua). Kenapa saya bisa diajak untuk ikut? Apa mereka tau saya setuju dengan partai itu atau bukan? Hmmm…hal ini yang sangat saya sayangkan, pengkaderan terselubung. Jujur, saya tidak suka dengan cara cara seperti itu. Mahasiswa tingkat awal yang niatnya cuma ingin menambah pengetahuan atau belajar tentang sesuatu dari suatu perkumpulan kecil, namun malah diselipkan dengan kepentingan-kepentingan golongan tertentu. Jika itu yang kalian sebut dengan jalan dakwah, maaf saya tidak ingin terlibat dengan dakwah semacam itu. Itu juga yang menjadi salah satu alasan saya kenapa saya tidak ingin terlibat lebih jauh dan keluar dari golongan itu.

Ohhh…pembicaraan ini semakin berat saja jika saya mengingat kembali masa-masa itu. Sudahlah,,,sekian dulu curahan uneg-uneg yang mengusik pemikiran saya beberapa hari ini. Apakah cara berfikir dan pandangan saya tentang independensi ada yang salah? Jika itu salah, tolonglah saya untuk meluruskannya, teman 😉 .

Iklan

26 pemikiran pada “Independensi Mahasiswa, Masih Perlukah?

  1. Saya setuju Rina, memang tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar (meski tidak semua) organisasi-organisasi kemahasiswaan ada yang memayungi, dan dalam proses perekrutan kadernya seolah-olah hal itu disamarkan sehingga para Mahasiswa terkesan terjebak 🙂

    • yups mas…
      tp ini bukan ttg organisasi kemahasiswaan, cuma ttg komunitas kecil mahasiswa..ya semacam itulah
      mungkin karena samar-samar itu jd timbul pikiran macam2 anggotanya (sprti saya ini)

  2. betul, tapi bagaimanapun mahasiswa sebagai agen2 perubahan dan agen2 pembaharu harus memiliki idealis, selama idealisnya itu tidak bertentangan dengan aturan kampus…
    tapi yang utama adalah tidak terikat dengan salah satu ‘partai politik’ sehingga mahasiswa akan lebih bebas membawa sebuah perubahan yang baik terhadap masyarakat…

    weleh..ini topiknya berat banget ya, hehe..peace :mrgreen:

    • waa…penjelasan yang mantap Kang…
      makasi banyak, udah mmberikan pencerahan

      hehe..emang topiknya berat kang, 😀 (kapok saya bikin tulisan kayak gini)

  3. Sebenarnya mahasiswa bisa untuk independen, tapi sulit. Mengapa. banyak alasannya dan akan lebih kompleks jika dibahas. 😀 Tergantung daerah yang ada. Tapi saya melihat memang ada indikasi itu di kampus-kampus.

  4. Independensi Vs Birokrasi

    terkadang Independensi sering dpertaruhkan karena tergiur oleh sesuatu yang bersifat kepentingan sesaat,

    tapi itu masih lebih baik daripada mengkomersial-kan suara independen menjadi corong kekuasaan yang tidak berpihak pada kepentingan masyarakat kecil, dan tidak berdasar pada hati nurani,

    jadi, sikap independen adalah suatu nilai positif yang harus tetap dikembangkan oleh Sang Idealis 🙂

    Salam

    Duta Aurora
    Di Tepian Selat Sunda

  5. seharusnya manusia bisa menempatkan dirinya secara cerdas. adalah kebodohan dan penistaan terhadap alamamter, jika aksi dan “perjuangan” yang mereka suarakan ternyata hanya dibarter oleh sesuatu untuk kepentingannya….

  6. tapi apakah demokrasi di Indonesia ini ngga kebablasan yah? aku rasa kog udah terlampau salah mengartikan demokrasi.. 🙂
    Well.. salam kenal dari mahasiswa Jogja 🙂

  7. Saya bukan anti gerakan mahasiswa dan sebutan macam seperti agent of the change dan sebagainya. tetapi melihat perilaku mahasiswa akhir ini simpati saya berganti menjadi rasa miris.
    Bayangkan, kampus sendiri dirusak, antar mahasiswa saling lempar2an batu.
    Selain itu, jika kampus mereka dimasuki aparat mereka marah-marah, tetapi jika mereka demo di kantor orang lain maunya merangsek masuk-mau menemui ketua ini- rektor-ketua Pengadilan dsbnya.Kalau nggak bisa masuk lalu menjebol atau merusak pagar. Piye Tho ??

    Apakah perubahan itu harus dikonotasikan dengan gerakan perusakan, pemaksaan secara fisik, dll.??

    Itu uneg2 saya nduk. Mbok jangan berkelahi dan merusak wong kalian semua itu manusia beragama kok.

    Salam hangat dari BlogCamp

    • Waa…bener2 buruk image mahasiswa sekarang ya Pak Dhe…itu karena oknum-oknum tertentu yang keluar jalur dan tidak taat aturan Pak Dhe

      Semoga uneg-uneg PAk Dhe dibaca oleh rekan-rekan mahasiswa lainnya
      😀

  8. Saya bukan mahasiswa, lagi. Bukan juga politikus. Tapi tetap berusaha untuk berkontribusi dalam pencerdasan politik
    Tapi boleh komeng juga dunk… :mrgreen:

    Bicara masalah politik, emang berat. Dan boleh jadi akan membawa orang yang membicarakannya salah makna ketika ia tidak punya dasar tentang “mengapa harus ada politik”. Apalagi kalau yang membicarakannya adalah orang yang tidak pernah belajar ilmu politik (seperti saya). Tapi, politik adalah salah satu upaya mentransformasi bangsa, dan sampai saat ini politik yang dituangkan dalam bentuk berdemokrasi masih dianggap sebagai cara yang paling memungkinkan untuk dipakai dalam kehidupan berbangsa kita.

    Btw, tulisan yang menarik
    Tapi memang kita harus berfikir solutif.

    • Btw, independensi bukan berarti tidak memilih, karena tidak ada pilihan lain kecuali harus memilih.
      Independensi mahasiswa, maksudnya mahasiswa adalah independen “bebas” untuk memilih kebenaran. Bebas untuk menyuarakan kebenaran. Mustahil peran sakti mereka “agent of change” terlaksana ketika mereka tidak memilih.
      Yah, itulah dinamika mahasiswa…

      Trims
      *komennya terlalu panjang ya 🙂

      • Makasi pencerahannya Da
        Gpp kok panjang…

        Yaa…benar sekali, mahasiswa memang bebas memilih kebenaran
        Yang saya bicarakan independensinya di kampus da…kalau di luar terserah mereka mau memilih calon A atau B
        Hubungannya antara pilkada, kampus dan mahasiswa
        Tentu uda sebagai orang yang berpengalaman dalam organisasi kemahasiswaan, tau maksud dan arah tulisan saya. Kita tidak bisa tutup mata dengan fenomena yang terjadi. Sudah banyak mahasiswa yang mengkampanyekan calon ini dan itu,,,apa menurut uda itu benar dan boleh? lalu bagaimana jika dikaitkan dengan independensi tadi…

        maaf saya banyak tanya…soalnya saya masih samar-samar dengan hal ini.

  9. jika kebingungan dalam mencari makna dari sebuah pergerakan mahasiswa itu wajar saja, sy saja harus menjadi mahasiswa selama 10 tahun lebih dan selama itu pula sy mengikuti setiap pergerakan mahasiswa dan ternyata 10 % yang betul-betul murni tidak ditunggangi sementara 90 % ditunggangi oleh kepentingan lain…. dan kini setelah saya selesai dan seorang ketua perguruan tinggi kami Drs. Suhardi M. Anwar, MM Pasangan Nomor urut 3 maju mencalonkan diri sebagai wakil bupati di Luwu Utara maka sy pun ikut dalam kegiatan politik tersebut walaupun tak terikat / mencalonkan tidak dalam satu partai melainkan menggunakan jalur independen, mengapa kami memilih independen tentu kembali kepada pemikiran bahwa utk maju sebagai calon yang diusung oleh partai sangatlah sulit jika dia bukan dari anggota/kader atau bahkan pengurus partai , dan sesuai dengan pemikiran kami maju di jalur independen akan lebih terhormat karena betul-betul maju dari rakyat biasa untuk rakyat biasa. olehnya itu sy selaku alumni mahasiswa meminta kepada teman-teman mahasiswa untuk membantu kami dalam memenangkan Calon Independen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s